Ngobrol Bareng Ngayal Bareng

Hujan Tanpa Air

Hujan Tanpa Air

Dari jurang lubuk yang tergelap,

Entah kapan aku harus tuliskan waktunya.

            Kepadamu yang dulu pernah ku harapkan,

Hanya secuil kisah, betapa pahitnya pengorbanan yang tak terbalaskan,  dariku untukmu yang akan ku tuliskan di lembaran lusuh ini. Tak bermakna, apalagi bagimu yang selalu memberikan pisau-pisau itu seikhlasmu. Ya, mungkin ini ialah sampah busuk bagimu. Sampah!

Sekadar catatan kecil bagimu, aku yang pernah banyak mengertimu. Saat kau membutuhkanku, aku pun langsung mengiyakan, walaupun mungkin aku sangat sibuk. Akulah yang dulu selalu mengirimkan morse kepadamu. Mengapa? Itulah yang kau minta sendiri. Kau merasa terganggu apabila kau dan aku “dijodohkan” oleh mereka.

media dari -themodernnomad.com

media dari -themodernnomad.com

            Sementara

langit menunjukkan kasihnya kepada kita, ia menunjukkan sang dewa tertinggi di siang dan dewi yang setia menemani di kala malam, kau justru mengambil lubukku atas lakuku, lalu merusaknya, merobeknya, dan membuangnya serta menuduhku atas apa yang tak kulakukan (ya, karena kala itu aku belum menaruh hati kepadamu). Namun, itukah yang telah kau berikan kepadaku? Sekadar ucapan terima kasih, bahkan senyuman simpul pun tidak. Ya, tidak!

            Memang, kala ini akulah yang bersalah. Tak menggubrismu disaat kau mendekatiku. Memang ini salahku, menaruh ekspektasi setinggi awan, namun justru kau menjatuhkanku di serpihan batu tajam yang menunjam.

Tak bisa ku buang, setiap jengkal memori lama atasmu. Selfie bersamamu, membuat tugas, membicarakan teman, sampai aku berkenalan dengan orang tuamu dan kau dengan orang tuaku. Setiap asa pun, aku taruh akanmu. Sederhana, namun rumit. Ya, itulah memoriku akanmu. Ku kira, inilah awal dari jatuhnya bunga-bunga itu. Namun, setelah kusadari, ternyata itu adalah musim panas. Bunga pun mati karenanya. Tak ada yang gugur.

media dari -randomwallpapers.net

media dari -randomwallpapers.net

Kala itu pun,

aku mengharapkan datangnya hujan. Hujan deras dengan guyuran air dari awan-awan kelabu. Hujan! Namun, apa dayaku, hujan itu datang disaat aku mulai melupakanmu. Namun, tak apalah, mungkin memang bumi sedang bergejolak dan samudera pun terlambat menguapkan airnya, sehingga hujan pun datang agak mengecewakan. Ya, aku merasa bahagia karena hujan itu darimu. Walaupun terlambat, ku tetap bahagia. Kau mulai tumbuhkan lagi bunga-bunga yang telah mati karena panasnya suhu. Kau mulai hijaukan lagi rumput-rumput dalamku, sehingga akupun merasa teduh dan nyaman karena dikelilingi bunga dan berbaring di padang rumput yang asri.

            Karena ini semua pemberianmu, ku berterima kasih kepadamu, dengan selalu merawat dan menjaga agar bunga-bunga ini tetap tumbuh dan rumput-rumput itu tetap hijau. Bagaimana? Kau telah menjatuhkan hujan dan aku telah membuat kubangan. Di situlah, aku menyimpan sisa air hujamnu, agar aku bisa menyirami bunga dan rumputku semua. Setiap hari. Tak peduli sebagaimana sengsaranya aku. Ku sirami terus bunga-bunga itu setiap pagi dan sore. Oleh karenanya, nyaman bersamamu mulai muncul dalamku. Ya, menciptakan memori bersama yang sampai sekarang tak bisa ku pindahkan ke pengepul rongsokan.

media dari -duniathifal.blogspot.com

media dari -duniathifal.blogspot.com

Ada hujan,

berpeluanglah ada badai. Ternyata terjadi. Badai tiba-tiba kau berikan kepadaku. Karena aku pun tak ada persiapan, luluh lantahlah seluruh bunga-bungaku. Mereka yang tadinya tumbuh subur dalam pot, yang bahkan setiap hari ku sirami dengan air hujanmu, kini berserakan entah kemana. Tanpa arah.

            Tak kusangka, ternyata yang mengirim badai ini ialah kau sendiri. Kau yang menyuburkan bungaku, kau sendiri yang merusakya. Kau sendiri yang memberiku apa yang disebut cinta, namun kau sendiri yang membantahnya, dengan mencari hati lain. Mencari hati yang lebih banyak bunga dan rumputnya. Hati yang siap kau beri hujan kapanpun kau mau.

Saat itu pun, kau masih saja memberikan hujan kepdaku, namun tanpa air. Ya, hujan tanpa air. Lalu, bagaimana aku bisa menumbuhkan kembali bungaku? Atau, kau memang berkehendak untuk membiarkanku berdiri mematung, melihat bunga dan rumputku yang telah berseraan? Itukah maumu?

Bila memang benar, tak apalah bila aku yang harus menerimanya. Karena sejujurnya, dari awal pun kau telah banyak menancapkan paku-paku ke lubukku dan kau melepasnya. Namun, ingatlah, biarpun paku itu telah tiada, bekas tak akan sirna. Sekarang, kau menancapkan linggis kepadaku? Akankah kau cabut? Tak perlu!

media dari -vipassani.wordpress.com

media dari -vipassani.wordpress.com

Sekarang,

kalau boleh pun, aku hanya bisa memanjatkan permintaan terakhirku kepadamu. Sederhana. Niscaya, kau bahagia. Yaitu, jauhilah aku. Biarkanlah aku sendiri yang membereskan bunga-bungaku. Biarlah aku sendiri yang menumbuhkannya kembali. Setidaknya, bukan atas hujanmu! Lebih baik kau berikan bibit mawar kepadanya. Sertailah dengan hujanmu! Aku pun berharap, kau bisa lebih bahagia melihat bunga-bunga itu tumbuh di hatinya. Apabila kau pun telah melihatnya tumbuh subur dan kau ingin memetiknya, tak perlulah kau menengok lagi ke arahku. Aku sudah cukup puas dengan segala perihku. Sebab, pandanganmu ke arahku akan mengirimkan badai yang lebih hebat lagi.

media dari -Hitamngulik.co

media dari -ngulik.co

Tolonglah, kabulkan permohonanku.

Aku hanya ingin, menghapus memori atasmu. Setidaknya, sampai aku menemukan rindu kembali atasmu. Aku hanya ingin, kau lebih bisa memahaminya. Kasihanilah dia, yang telah mencangkul banyak lubang untuk bungamu. Kasihanilah dia! Tekadnya pun sudah bulat, memilikimu. Maka, aku pun berubah pikiran, guyurkanlah hujan tanpa air ke kebunku, agar bungaku tak mati lagi. Tak mati lagi.

Inilah yang dapat ku tuliskan atas jeritan pedih lubukku ini. Bila kau tak menggubrisnya, setidaknya aku minta, kabulkanlah permohonanku. Sampai jumpa, itu pun kalau waktu memperbolehkan kita bertemu lagi. Semoga kau bisa bahagia dengannya.

 

 

Dari seseorang yang pernah kau berikan bunga,

-K.A.P / 11-

Karena apapun yang kau katakan, bagaimanapun kau menolaknya,

cinta akan tetap berada di sana, menunggumu mengakuinya.

Sebab debu pun telah menjadi saksi akan kita, bagaimana kau dan aku selalu bersama,

Bersama untuk berpisah, 

walau mungkin aku yang patut disalahkan saat ini, atas ekspektasiku yang berlebihan akanmu.

Sekarang, aku hanya bisa mengucap, 

“Inilah waktu untuk memandang kenyataan, bahwa aku tak akan mungkin bersamamu.”

Facebook Comments
1996 Total Views 6 Views Today

Top