Ngobrol Bareng Ngayal Bareng

Ketika Paket Datang

Ketika Paket Datang

Adalah sebuah hari disaat aku merasa hati ini sudah berhasil mendapatkan medali emasnya. Hari dimana aku bisa memahami bahwa sesungguhnya mencintai seseorang dan balik dicintai ialah hal utama yang wajib ada di dunia ini. Hari dimana aku pun bisa menjadi sangat hangat. Bukan dingin, bukan panas. Hari dimana aku bisa kembali mengingat semuanya. Semuanya tentang kita. Semuanya yang membuatku berpikir bahwa waktu terasa berlalu begitu ganasnya. Begitu ganas hingga aku tak sempat menghitung berapa banyak debu yang menempel di tubuhku. Dan inilah secuilnya yang bisa kuingat.

Tepat ketika masa kita masih memakai seragam putih abu-abu. Dan itulah awal dari semuanya. Ya, menuntut ilmu ialah kewajiban. Namun, hati berbisik juga menjadi kewajiban kita untuk mendengarkan. Adalah sebuah masa ketika aku begitu sangat yakin bahwa Tuhan mengirimkanmu untukku. Ya, untukku. Menghargai setiap apa yang tak kau punya sampai menabung setiap apa yang kau tampilkan, adalah apa yang telah ku perbuat kala itu. Sebuah  masa ketika aku menghadirkanmu di setiap sela-sela sel otakku. Masa dimana kau membiarkan ekspektasiku melayang jauh hingga antah berantah. Sampai aku pun sempat beropini bahwa kita sebenarnya layak untuk merajut kaish dan menjalin cinta bersama.

danbo-galau1

media dari irmanisedikit.wordpress.com

          Teman ialah teman. Ketika hati dan pikiranku sangat melotot kepadamu, bukan berarti aku harus meninggalkan kehidupan lamaku. Bahakan aku pun selalu meminta saran, opini, bahakn pertolongan dari teman-temanku Semua aku lakukan hanya demi memastikan dan mebuat semuanya menjadi lebih terang.

Sempat pula pikiranku meroket hingga membumbung tinggi. Masih ingatkah kau ketika kau dan aku merayakan setiap hari-hai kita di sebuah kolam dan kita mengintarinya? Ah, kuyakin kau masih! Ya, asal kau tahu, itulah hari terindah bagiku. Bukan karena kau berada di sampingku, namun karena kutub selatan hatimu telah menarik kutub utara hatiku,  entah bagaimana kau melakukannya. Namun, aku yakin bahwa semua itu kau lakukan atas karena keikhlasanmu menerima apa yang menjadi kemiskinanku.

Kau tahu, ada sekian miliar butir pasir di pantai. Demikian juga aku. Bukan diriku yang berlipat ganda, tapi hati dan pikiranku yang menjadi berjuta-juta banyaknya. Memikirkanmu ialah sebuah derita yang nikmat untukku. Maka aku pun sebenarnya entah harus berbuat apa kala dari palung otakku tiba-tiba muncul sebuah bom ke atas. Aku pun tak tahu siapa yang melemparkannya.

Aku masih punya dada yang sangat lapang. Ketika aku pun benar-benar terkena lemparan bom itu, aku masih saja memaafkan pelakunya. Walaupun kala itu aku bisa saja membunuhnya karena aku sendiri kenal akan dia. Tapi, buat apa aku melakukannya kalau ia masih ku anggap sebatas pengganggu?

media dari -irmanisedikit.wordpress.com-

media dari -irmanisedikit.wordpress.com-

          Namun, ada suatu hari lain yang membuatku merasa sangat berkebalikan. Ketika sebuah paket datang menghampiriku. Rupanya itu adalah sebuah panggilan bagiku untuk turut merasakan kebahagiaanmu bersamanya. Ya, sebagai manusia biasa, wajarlah bila aku merasa sangat kecewa. Ternyata, semua yang sudah ku lakukan selama ini demimu, hanya kau balas dengan kelakuan kasar darimu yang begitu menyayatku. Ternyata, pelaku yang melemparkan bom itu benar, bahwa sesungguhnya aku patut waspada akan dirimu.

media dari -plus.google.com

media dari -plus.google.com

          Sekali lagi aku merenung, berpikir. Setelah panjang lebar bergulat dengan kemarahan hatiku ini, aku sadar. Buat apa aku terlahir sebagai seorang lelaki kalau aku tak bisa melepaskan dan menghadapi kenyataan yang ada? Buat apa aku terus meratapimu yang sudah tak mungkin menjadi milikku. Lalu, teringat aku akan perkataanmu kala itu yang ingin mengundangku bertemu bersama teman-teman lama kita. Ya, inilah yang ada. Sebab debu pun telah menjadi saksi akan kita, bagaimana kau dan aku selalu bersama, bersama untuk berpisah, walau mungkin aku yang patut disalahkan saat ini, atas ekspektasiku yang berlebihan akanmu.

Sekarang, aku hanya bisa mengucap,

“Inilah waktu untuk memandang kenyataan, bahwa aku tak akan mungkin bersamamu.”

Kristan Adhi-P

-Hujan Tanpa Air-

Facebook Comments
1756 Total Views 15 Views Today
Tags: ,

Top