Ngobrol Bareng Ngayal Bareng

Masih Nggak Sekolah ??….

Masih Nggak Sekolah ??….

            Hai readers, ketemu lagi nih di diingklik.net Kalau hari-hari sebelumnya readers udah dapet banyak konten-konten yang memotivasi dan mungkin nambah semangat untuk galau, sekarang saatnya kita untuk sedikit mundur dan merefleksi dari sebuah kisah miris yang ada di perkotaan.

            Mungkin bagi kita semua, yang namanya sekolah ialah kehidupan kedua yang artinya harus dijalani. Namun, bagi kita yang merasa hidup di kota melihat tetangga kita tidak meyekolahkan anaknya sendiri, rasanya pasti ‘gimana gitu.’ Ya, seenggaknya inilah yang mau the writer share ke readers semua tentang sedikit pengalaman mempunyai tetangga yang begitu tadi dalam bentuk cerpen. Yuk, silakan readers baca aja!

Beri Aku Kesempatan

            Namaku Frans. Aku hidup di lingkungan perumahan yang terkenal mewah. Aku tinggal di sebuah rumah, bersama kedua orang tuaku dan juga adikku yang masih berumur 2 tahun. Saat ini aku berusia 9 tahun. Nampaknya, sehari-hari aku terlihat bahagia, bermain bersama adik, terkadang teman-teman kompleks yang umurnya masih sebaya denganku. Tapi sesungguhnya, tak banyak yang tahu tentang apa yang aku rasakan sebenarnya.

            Kedua orang tuaku membuka usaha laundry. Usaha ini cukup laris, menurutku. Hampir setiap hari, paling tidak ada sepuluh orang datang untuk mencucikan baju-baju mereka. Mereka tak hanya sedikit membawanya, seorang pelanggan rata-rata membawa sekitar  5 bahkan 8 kg pakaian kotor. Orang tuaku merasa senang, ketika melihat orang-orang berdatangan mencucikan pakian mereka. Namun, bagiku, inilah yang membuatku tersiksa.

media dari -delmonstro.com

media dari -delmonstro.com

            Ayahku memiliki hobi memelihara hewan. Tak heran, di rumahku terdapat tiga ekor kambing dan 6 ekor ayam. Ya, aku terkadang merasa tak nyaman ketika tetanggaku harus membicarakan keluarga kami akibat kesenangan ayah ini. Ibuku memiliki hobi memasak. Setiap hari, masakannya selalu saja enak ku rasakan. Tak heran, adikku sangat jarang jajan di luar rumah seperti anak lainnya, karena ia sudah terhipnotis dengan enaknya masakan ibu.

            Hidup keluarga kami sepertinya berjalan biasa-biasa saja. Bila dilihat dari luar, nampaknya kami ialah keluarga yang bahagia. Kebutuhan kami selalu terpenuhi. Hidup kami selalu tercukupi.Namun bagiku, ada satu kebutuhanku dan yang banyak dikata orang sebagai hak yang sampai saat ini belum aku dapatkan, sekolah.

            Awalnya aku tak terlalu sadar, ketika aku masih kecil, aku merasa senang karena sehari-harinya, aku hanya diajari menulis, membaca, menghitung, bernyanyi, dan menggambar oleh ibuku seharian, serta bisa bermain tanpa harus memikirkan sekolah. Tak harus aku menyelesaikan tugas, PR, bahkan harus bersusah payah mengerjakan ulangan. Namun sekarang, aku menyadari satu hal. Ternyata, keluargaku telah membiarkanku untuk tidak mendapatkan hak dan kebutuhan dasar yang wajib aku terima. Sesekali aku harus menangis di kamar, ketika pagi hari aku melihat anak-anak di kompleksku berdandan rapi dan berseragam lengkap, siap ke sekolah. Aku hanya bisa iri melihat mereka sekarang. Tak banyak yang bisa ku lakukan. Hanya pasrah dan menghadapi kenyataan pahit ini.

            “Frans, kamu kenapa kok murung gitu di depan rumah?” tanya ibu yang membuatku terkejut.

            “Oh, nggak ada apa-apa kok.” Jawabku sambil sedikit mengalihkan pandanganku dari arah ibu.

            “Ya udah. Sekarang, kamu nemeni adikmu ya! Diajak mainan aja sana!” perintah ibuku yang bagiku sangat menjengkelkan. Bukannya disuruh sekolah, malah disuruh main terus.

            “Ya!” jawabku singkat.

            Aku memasuki kamar, menyusul adikku yang sudah lebih dulu bermain mobil-mobilan. Tak banyak yang ku lakukan saat aku menemani adikku bermain. Aku hanya bisa temenung, sambil memeluk bantal kesayanganku. Terkadang, aku menyodorkan sebuah mainan truk kecil, menabrakkannya ke arah mobil-mobilan adikku. Ya, sekadar membuatnya bahagia. Setiap hari, inilah kegiatanku. Sembari terkadang memberi makan hewan peliharaan ayahku dan mengajaknya keluar kandang di siang dan petang hari.

            Malam harinya, saat makan malam, aku sangat gelisah. Aku hanya ingin menanyakan kepada orang tuaku, sebenarnya mengapa aku tak sekolah.

            “Kamu ngapa Frans, kok sibuk sendiri?” tanya ayahku bernada halus.

            “Aku bosan, capek!” sahutku sedikit jengkel.

            “Kenapa sih?” tanya ayahku lagi.

            Aku tak langsung menjawabnya. Aku takut kalau sampai ayahku marah mendengar keluhku ini.

            “Kok malah bengong?” sahut ayah penasaran.

            “Frans, kamu kenapa sih?” tambah ibu yang juga semakin membuatku takut.

            “Aku…,” jawabku terputus.

            “Iya, ngapa?” tanya ayah.

            “Mau banget…,” sahutku kembali terputus.

            “Buruan, ibu keburu nggak sabar mau dengar jawabanmu!” sahut ibu membujukku segera untuk menjawabnya.

            “Mainan? PS? Atau bola basket?” tanya ayah.

            “Bukan semuanya itu!” jawabku.

            “Lalu?”

            “Pokoknya bukan itu, Ayah!”

            “Makanya, apa?”

            “Entar juga tahu!” jawabku sambil meninggalkan meja makan, berjalan memasuki kamar.

            Dari dalam kamar, ku dengar celotehan ayah dan ibu. Mereka nyatanya masih belum sadar akan keluhanku ini. Mereka tak tahu kalau aku butuh sekolah. Yang mereka pikirkan hanya mencukupi ekonomi dan ekonomi saja terus.

media dari-berdecak.top-

media dari-berdecak.top-

            “Atau mungkin, Frans butuh sekolah ya, Bu?” tanya ayah kepada ibu, sempat ku dengar walau hanya sayup-sayup.

            “Bisa jadi. Tapi, mana mungkin kita menyekolahkan dia? Rumah ini nanti malah nggak keurus, nggak bisa makan kita nanti kalau penghasilan laundry ini hanya untuk membayar SPP terus,” tolak ibu yang sangat jelas ku dengar.

            “Hush! Jangan berisik, Frans dengar, gimana?”

            “Oh ya, sorry ya!”

            Mendengar hal itu, aku langsung menangis. Aku menangis pelan agar adikku yang telah tidur di sampingku tak terusik. Sangat sakit rasanya mendengar hal itu. Ingin rasanya aku kabur dari rumah, mencari orang tua yang masih peduli dengan sekolah. Ya, sekolah.

            “Apa sih salahku sampai aku nggak sekolah? Apa aku terlalu bodoh, sampai mereka malu mendaftarkanku di sekolah? Apa perlu aku kabur? Ah, tidak! Kasusnya panjang nanti. Lalu, apa mereka hanya mau memikirkan nasib laundry ini saja? Ah, pokoknya aku harus sekolah!” tuturku lirih sembari memeluk bantal kesayanganku.

media dari -youtube.com

media dari -youtube.com

            Esok harinya, aku memberanikan diri pergi ke sekolah di dekat rumahku. Berbekal sebuah pensil, sebuah buku, dan sehelai kertas yang kesemuanya aku masukkan ke dalam sebuah tas kumal, aku pamit kepada ibu dengan alasan bermain.Tidak bermain, namun aku pergi menuju sekolah itu. Ku lihat anak-anak seumuranku sedang asyik belajar di salah satu kelas. Mereka nampak serius memperhatikan guru mereka yang sedang belajar. Aku pun dengan berani menghampiri kelas itu. Ku lihat dari luar jendela, mereka sedang belajar hitungan. Segera saja aku mengeluarkan kertas dan pensil yang telah ku bawa tadi. Ku catat beberapa materi yang tertulis di papan tulis. Karena keasyikanku mengikuti dan menulis materi itu, aku sampai tak mengjhiraukan keadaan sekitar.

            “Nak, kamu sedang apa?” tanya seorang satpam.

            “Em, nggak Pak, cuma nonton aja kok,” jawabku sambil ketakutan.

            “Kamu emangnya nggak sekolah apa?” sahutnya lagi.

            “Em, saya…,” jawabku terputus dan kemuadian aku menangis.

            Mendengar ada sedikit kegaduhan di luar, sang guru yang tadinya mengajar pun keluar. Sontak hal ini membuat seisi kelas pun melihat ke arah luar jendela.

            “Ada apa ini?” tanya guru itu.

            “Ini Pak, ada anak, dari tadi saya lihat kok cuma di luar terus. Saya kira dia telat Pak. Makanya, saya suruh segera masuk. Eh, ternyata dia malah nangis sekarang,” jelas satpam itu.

media dari isparenting.wordpress.com-

media dari isparenting.wordpress.com-

            “Kamu kenapa?” tanya guru itu kepadaku.

            “Anu Pak, em…,” jawabku ketakutan.

            “Iya, kenapa?”

            “Saya cuma mau…,”

            “Iya, mau apa?”

            “Saya cuma mau sekolah disini, Pak,” jawabku sambil ketakutan.

            “Lho, emang orang tuamu nggak nyekolahin kamu apa?” heran guru itu.

            “I…ya, … iya, Pak,” jawabku terbatah-batah.

            “Ya udah, kamu khusus hari ini, bapak persilakan belajar sampai pulang sekolah. Nanti, kalau ada waktu, saya mau bertemu dengan orang tuamu,” bujuk guru itu.

            Tentu saja, hal ini membuatku sangat senang. Akhirnya, aku bisa belajar si sekolah, walaupun hanya sehari. Namun bagiku, ini ialah hal yang paling indah yang pernah aku rasakan selama ini.

            Sepulangnya, aku kembali ditemui guru itu. Ia bertanya namaku dan alamat rumahku. Aku pun menuliskannya pada sehelai kertas. Ku berikan kertas itu kepada guru itu. Aku tak berpikir apa-apa, termasuk kalau-kalau guru itu akan mendatangi rumahku.

            Sore hari, sekitar pukul 17, ada tamu yang mendatangi rumahku.

            “Permisi!” sapa orang itu di depan rumah.

            “Ya, sebentar,” teriak ayahku dari dapur.

            “Maaf, apa benar ini rumahnya Frans?” tanya tamu itu.

            “Iya betul. Maaf, Bapak siapa ya?”

            “Oh, saya guru di SDN 03. Boleh saya bertemu Frans? Ada hal penting,”

            “Oh ya, silakan masuk, Pak!” sahut ayahku.

            Ayah memanggilku. Aku gugup, kalau-kalau tamu itu benar guru yang tadi siang aku temui di sekolah. Perkiraanku ternyata tepat. Tamu itu adalah guru yang tadi pagi di sekolah, menemui aku dan memintaku alamat. Guru itu menceritakan semua hal yang kulakukan tadi siang di sekolah. Semuanya diceritakan detil kepada ayahku. Karena takut dimarahi, aku pun berdiam di kamar.

            “Jadi, apa benar, Frans sampai sekarang masih belum bersekolah, Pak?” tanya guru itu kepada ayahku.

            “Sebenarnya begini, bukan berarti kami tidak mau menyekolahkan Frans, namun kami khawatir, kalau biaya hidup kami akan berkurang demi SPP Frans,” terang ayahku.

            “Hanya masalah seperti itu, Pak? Kan sekolah sekarang gratis biaya gedung, SPP, bahkan pemerintah ada beasiswa kalau Frans ini berperstasi,” jawab pak guru itu.

            “Oh, begitu ya. Saya baru tahu. Sebentar, saya panggilkan Frans,” sahut ayahku sambil menghampiri kamarku dan memanggilku keluar.

            “Frans, jadi permintaanmu kala itu, cuma mau sekolah?” tanya ayahku yang bagiku hanya suatu pencitraan saja.

            “Ya,” jawabku singkat dengan sedikit kesal.

            “Tu kan Pak, kalau anak Bapak saja mau sekolah, masa orang tuanya malah kendor semangatnya?” sindir guru itu.

            “Iya, Pak,” sahut ayahku.

            “Lalu, kapan bapak akan mendaftarkan Frans? Saya siap membantu kalau kesulitan,”ujar guru itu.

            “Frans, minggu depan, kamu ayah daftarkan di SDN 03 ya,” kata ayah kepadaku.

            “Yakin, Yah? Minggu depan?” sahutku bahagia, berharap akan terkabul.

            “Baik Pak, minggu depan akan saya daftarkan. Maaf, nama bapak siapa? Nanti biar saya menemui bapak lebih gampang,” kata ayahku.

            “Nama saya Gunawan. Silahkan saja, bilang ke satpam, mau ketemu Pak Gunawan. Nanti saya akan menemui Bapak dan Frans,” terang guru itu.

            “Baik Pak, terima kasih atas kerjasamanya. Semoga Frans bisa senang,” sahut ayahku.

            “Terima kasih, Pak Gunawan,” kataku mengucap terima kasih, karena aku tak tahu apa yang harus aku katakan di tengah kebahagiaan ini.

            “Iya, Frans,” jawab guru itu.

            Hatiku merasa sangat bahagia kala itu, membayangkan betapa indahnya dan senangnya bisa bersekolah secara formal bersama teman-teman baru. Itulah cita-cita sederhanaku yang sangataku dambakan. Setidaknya, suatu capaian yang harus aku raih dalam waktu dekat ini.

            Seminggu telah berlalu. Pagi-pagi benar aku bangun. Berharap hari indah ini akan segera terjadi. Mengunjungi sekolah, mendaftarkan diri dan siap untuk segera mengenyam pendidikan. Semangatku bahkan melebihi saataku nekat pergi ke sekolah dan belajar dari jendela.

Namun, semuanya itu tak sesuai yang kuharapkan. Ternyata, ayah dan ibu sengaja tidak mendaftarkan aku. Aku sama sekali tak mengerti apa mau mereka. Aku pun sadar, semua janji ayah, baik kepadaku maupun kepada Pak Gunawan, semuanya hanya dusta belaka. Sungguh sakit, hati dan pikiranku ini ketika aku harus mendengar ucapan ibu yang amat menggelegar dan tajam menghantui telingaku.

            “Frans, sabarlah dulu, kami pasti akan menyekolahkanmu,” kata ayah.

            “Iya, lagi pula sekolah ‘kan tak terlalu penting dibandingkan usaha kita. Bagaimana kita bisa makan kalau hasil laundry kita harus selalu tersisih demi SPPmu?” lanjut ibu.

            “Terserah apa kata ayah dan ibu. Yang jelas, aku ingin sekolah!” kataku sambil marah kepada mereka berdua.

media dari-berdecak.top-

media dari-berdecak.top-

            Entah apa salahku. Entah apa pula motivasi kedua orang tuaku tak menyekolahkan aku. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Masalah dana? Aku yakin kedua orang tuaku mampu. Masalah semangat bersekolah? Mungkin. Ah, terserahlah. Bagaimanapun, aku tetap ingin bersekolah! Andaikata saja, orang tuaku baik hati dan melek pendidikan. Semoga saja, adikku tak mengalami hal serupa yang kualami.

            Gimana readers, sedih ‘kan rasanya baca cerpen tadi? Ya seenggaknya readers kalau punya juga tetangga yang beginian, kita bisa kasih info ke mereka kalau sekolah sekarang juga gratis SPP karena ada BOS. Selain itu, readers juga wajib menyadarkan mereka kalau pendidikan itu jauh lebih penting dari hal-hal lainnya. Ya minimal ‘kan mereka bisa menyekolahkan anak mereka di sekolah-sekolah yang pasti di kecamatan, nggak harus di tengah kota. Jadi kesimpulannya, memajukan pendidikan bangsa juga jadi kewajiban readers lho! Nggak harus pakai cara-cara yang ekstrim. Dari kita sendiri kita bisa mulai dengan belajar giat. Lebih lengkapnya, readers bisa baca di diingklik.net di judul artikel Berhenti bersekolah karena biaya mahal? ya. Untuk ke masyarakat umum, ya itu tadi, kita bisa menyadarkan mereka, seenggaknya mungin pas kita ngobrol gitu.

            So readers, terus berjuang untuk memajukan pendidikan bangsa ya! Terima kasih.

Penulis, Kristian Adhi. P – KAP

Facebook Comments
2335 Total Views 6 Views Today
Tags: ,

Top